adventure, berkebun dirumah, persahabatan

Just another WordPress.com weblog

Mutiara-Mutiara dari sahabat January 2, 2008

Filed under: Kamut — azizah @ 2:37 am

Sebuah kata terindah dihari menjelang ultahku

16 Juni 2006

just

4

U

+””+,,+””+

‘+ Slmt +’

“+ “

 

+””+,,+””+

‘+ Ulng +’

“+ + “

“+ “

 

 

+””+,,+””+

‘+ Tahun +’

“+ + “

“+ “

“Mb Ayiz”smg tercapai cita-cita dan sisa umur barokah”

16-07-06/12:55 pm dari Cancerianus tercinta.

Puisi-Puisi Mereka

Dari Emy Marlesi sdrq di Jambi / 09-07-07/11:34 pm

Kejujuran membawa kpd ketenangan

Dusta membawa kepada kegelisahan

Perasaan malu adalah perisai hidup

Ilmu adalah pembeda

Kefasihan berbicara adalah perhiasan

Sikap diam adalah hikmah dan kebijaksanaan

 

Emy M/19-07-07/12:05 am

Dipersimpangan jalan aku terpaku bisu

dalam keheningan

kabut putih terus merambat menyapu wajah yang kian dingin

dikejauhan meski samar namun jelas

kerlipan sinar lilin menerangi wajah ceriamu

di bathin ini ada kidung tulus

terpahat erat dalam ragaku

semoga kebahagiaan

kan slalu menyelimuti hari-harimu

semoga panjang umur dan sukses untukmu

selalu

I can say only

Happy B’Day

 

Emy M./19-07-07/11:223 pm

Kirimkan surat pengharapanmu

Ditengah keheningan malam

Jadikan air matamu sebagai tintanya

Kedua pipimu sebagai kertasnya

Kepasrahan sebagai perangkonya

N 4JJI sebagai alamat tujuannya

Setelah itu tunggulah balasannya

 

Emy M. 22-07-07/11:43 PM

Rinduku di hempas angin Juli

Menyisakan rasa jera n siksa sepi

Menggelayuti

Pelangipun tak memberi janji

Maka

Hari-hariku, hari2 tak pasti

 

Emy M/02-08-07/6:17 am

Buka

Hati,

 

Dpt

Cinta

 

Buka Buku

Dapat Ilmu

 

Buka Dompet

Dapat Uang

 

Buka Hp dapat satu pesan

Buka pesan dapat ucapan selamat pagi dunia.

 

Emy M/08-08-07/6:21 AM

Hari berganti

Mentaripun bersinar cerah

Duniapun tampak lebih indah

Dengan sinarnya begitu juga harapanku

Dengan kabarmu hari ni

Yang mendapatkan pancaran sinarnya.

Awali hari ini dengan senyuman n semangat.

 

Emy M/08-07-07

Gugur daun adalah mimpiku

Seperti rengkuh rinduku pada beberapa tunas pohon

Ada aneka warna bertebaran saling berderah

Seperti risih yang berpacu

Sepi

Jatuh mimpiku

Bersama hilir mengusir

Biru laut.

Emy 15-07-7/11:56 pm

Walau buih membeku

Ditengah lautan asin

Aku kan tetap mencoba

Bertahan untuk meraih satu asa

Sahabat yang pernah ku kenal

 

5-07-7/11:51 pm

hari berganti hari

ukirkan kisah sepanjang masa

ketika dulu lama nian

waktu itu

selesikan kisah

dan kembali pada jalan masing-masing

tapi kini

rasanya ingin kembali

ke masa lalu

pun mengukir lagi kenangan itu

tawa,canda juga tangis yang mengalun merdu lagi sendu

sobat…

tak dapat kupungkiri

tlah kutemukan sesuatu yang membekas dihati

yang ingin kubawa

sebagai pelita digelap malamku

menggapai cita n cinta

dalam kesucian jalan Ilahi

dan meraih mimpi dengan senyum sang mentari.

 

Tak akan kulupa

Tlah kutemukan sesuatu yang membekas dihati

Bersamamu….

 

28-06-07/9:09 pm

Mimpiku menjemput rindu yang tersangkut

Di awan

Apakah rindu

Kan menyapa tidur?

Lalu terbang kelangit bermain bintang

Sebab kita selalu hidup dalam mimpi dan rindu

 

26-06-07/10:04 am

hati yang slalu bahagia akan membunuh virus penderitaan

demikian juga dengan jiwa yang pasrah pada takdir Allah

akan menghancurkan bakteri kebencian

kepakkan sayap

kobarkan semangat

raih kemenangan dalam niat suci.

 

26/08/07

inginku raih asa itu

sebuah cita-cita

menjadi orang yang mencinta dan di cinta

mencinta semua hal di dunia yang buatku dan orang lain tersenyum bahagia

akupun ingin di cinta oleh mereka yang ku cinta

kapankah ku bisa berikan sebuah cinta?

Untuk mereka yang mendamba

Ya Allah jadikanlah aku seorang pecinta

Dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh

 

Peri Pirdaus/19-07-07/7:12 pm

Semoga Ukh sukses dech, tercapai impiannya,

Tenang hatinya, bahagia hidupnya n yang t’penting 4JJI cinta dan Ridhlo padamu.

Sebagai kado ultah- ansohulaki “kun fil hayati mutafa’ilan tanjah”.

Menjalani hidup tuh yang sabar yach, tetap semangat n sekali lagi

Moga sukses.

 

Linda Lampung/19-07-07/9:16 pm

Met Ultah ya Khusnul

Moga semua harapan, keinginan & cita-cita yang slama ini belum tercapai bisa tercapai ditahun ini.

Smoga khusnul lebih baek, dewasa lagi.

 

 

No name/22-07-07/10:20 pm/081339078679

Persahabatan itu seperti tangan dengan mata

Saat tangan terluka

Mata menangis

Saat mata menangis

Tangan menghapusnya

Met pagi

 

 

Eny Kerto/25-07-07/10:06 pm

Saat hatimu luka, adakah q dihatimu,

Saat hatimu bahagia, adakah q dalam hatimu??

Mungkin ku tak slalu ada buatmu,

Tapi sahabatmu nikan slalu mengingatmu, smoga Istiqomah slalu,

Amiiin…

 

 

Reni Untirta/28-07-07/6:32 am

Azamkan dalam hati Allah dan rasulNya

Lebih menarik hatiku daripada yang lain

Allah Maha pembolak-balik hati

Mintalah padaNya agar hati Qt diteguhkan untuk menjalankan syariatNya.

 

Akh Ochim/14-08-07/6:27 am

Meski raga tak menghampiri

Namun ikhtiar telah Qt usahakan

Doa adalah senjata kita ikhwah,

Semoga doa teriring keihlasan yang sangat ini

Menjadikan Allah ridha dengan ikhtiar kita

Di lini dakwah ini.

Amin

 

Titis HTI/14-08-07/5:42 pm

Siapapun kita semoga makin bisa mengencangkn ikat pinggang

Untuk berjuang dalam barisan pejuang

Mjalankan syariat

sapapun kita

Lebih cerdas, ikhlas, rapi, syari dan istiqomah.

Ikatan kita adalah ikatan ukhuwah. Uhibuki fillah.

 

Reni Untirta/27 Sep 2007

Selebih kasih

Membuat Qt Sayang

Seucap janji membuat Qt Percaya…

Sekecil luka membuat kita kecewa…

Tapi

Sebuah PERSAHABATAN

Kan selamanya bermakna

 

Titis Hti/25 sept 2007

 

Pakabar qalbu? Semoga sirna dari keruh dan debu

Pa kabar iman? Semoga semakin kokoh dan bersemi.

Pa kabar cinta ? semoga terpatri u ilahi.

 

Reni Untirta 24 Sep 07

Janganlah menjadi sahabat seperti:

PEPSODENyang hanya 12 jam

BAYGON yang hanya 24 jam

Dan HIT yang hanya 48 jam

Tetapi bersahabatlah seperti REXONA yang setia setiap saat

19Aug 07

jika ingin jadi hamba Allah semata.

Fokuskan segala rasa kagum hanya kepadaNya.

Di balik setiap kedahsayatanyang ada di dunia , Allahlah sumbernya

 

Betapa menderita orang yang tersesat, hati selalu resah, langkah tak pasti

Bahaya didatangi, semakin sengsara

Begitulah nasib yang tersesat dari jalan Allah. (@@ Gym).

 

Un batuk 1 gelas air jahe+2 sendok the madu. Campurkan dan minum hangat-hangat 2x sehari

 

 

Emy 24 aug 07

Keraguan mengelus

Gema yang tak putus-putus

Melngking di dataran huma

Yang tramat khusuk

Menyusun kenangan bukit-bukit

Walau begitu

Gemanya tak semerdu nestapaku

Dalam secercah pengharapan.

 

Sda 28 Aug

Ya Allah

Beerikanlah kepadaNya kerelaan untuk menerima hal-hal yang TAK DPT di Ubah

Keberanian untuk Mengubah hal-hal yang dapat dia ubah

N HIKMAH u/ membedakan keduanya. Amin

 

Rahli Unib /11 sep 2007

Selalu da harapan dalam Keyakinan,

Ada keteguhan dalam kesabaran

Ada hikmah dalam kesyukuran

Ada doa dalam ukhuwah

 

Emy 12/sep

Tiada kata seindah zikir, tiada hari seindah hari ramadhan,

Untuk itu ijinkanlah kedua tangan bersimpuh

Maaf untuk lisan yang tak terjaga, janji yang terabaikan

Hati yang berprasangka & semua sikap yang pernah menyakitkan

Mohon maaf lahir batin.

 

Susgianto/ 12 sep 07

Kadang lidah salah berucap

Kadang hati salah menduga

Mohon maaf atas khilaf

Sebuah doa dari sahabat

Peri Pirdaus

13 Okt 07

Ya 4JJI, perkayalah sdrku ini dengan ilmu,

Hiasi hatinya dg kesabaran dan kasih sayang,

Muliakan wajahnya dg ketaqwaan,

Perindah fisiknya dg kesehatan,

Trimalah amal ibadahnya dg kelipatgandaan

Barokah Dan MagfirohMU

 

Haryuni, 16 des 07 1:33 am

Penggugah semangat ku

Ehm dunia ni fana, sementara ….

Jgn biarkan diri ni hilang sia-sia…

Tak da kata terlambat…n go on the way, bangunkn hatimu,

Bangunkan dirimu….

Raih ketenangan hati ni, dg jauh melihat diri ni ke dalam…

Qiyamul lail menunggumu, buat dirimu siap tuk memenuhi

Apa yang menjadi tujuan hidup ini… ikhlas…

 

SMS Lucu

Sms dari sodaraku nun jauh di seberang sana

Yusuf STT Migas Samarinda

18 Des 07

 

Usahain

Dalam waktu

Dekat ni

 

Neng jaga kesehatan dan

Banyak makan ya…

 

Jgn nanti pada waktunya neng,

kurus

ga b’tenaga &

sakit-sakitan

Tanda Sayang dari

 

 

panitia Qurban

 

 

27 Des 07

Fr; Haryuni tercinta

 

Kata-kata kecil bisa meredakan persoalan besar

Pelukan keecil bisa mengeringkan air mata besar

Lilin kecil bisa menerangi kegelapan

Kenangan kecil dapat mengendap bertahun-tahun

Terima kasih untuk hal-hal kecil darimu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HARI-HARI DALAM PELAYARAN KEBANGSAAN VII December 28, 2007

Filed under: My Experience — azizah @ 1:37 am

Pengantar sebelum perjalananku

Mengawali perjalanan pertamaku yang panjang, ku kutip apa yang telah dinyatakan oleh seorang Helen keller bahwa

“watak tidak bisa berkembang dalam suasana nyaman dan serba mudah, Hanya dengan mengalami cobaan dan deritalah, jiwa manusia akan bertambah kuat, pandangan hidup akan bertambah jernih, ambisi akan timbul, serta kesuksesan diraih“.

Menurutku saat inilah aku mencoba melihat dunia lebih luas dan lebih jelas. Sesuatu yang belum pernah terlintas dibenakku untuk adventure ke luar dengan tanpa biaya sendiri. Tapi mungkin inilah salah satu doaku yang telah dikabulkan oleh Allah yang Maha Mengabulkan doa setiap hambaNya.

Aku selalu berharap mendapatkan pengalaman-pengalaman baru serta ilmu-ilmu yang bermanfaat bagi dunia dan akhiratku. Saat perjalanan inilah aku merasa mendapatkan sedikit dari harapanku itu. Selalu yang menjadi tujuanku adalah mendapatkan ilmu untuk lebih mengenal ciptaanMu dan memahami makna yang terdapat disana. Betapa ingin ku ini masih jauh dari apa yang ku dapatkan betapa banyak ilmu yang ingin kurengkuh tapi masih terlalu jauh dari tangan. Kadang ku merasa mengapa waktu begitu cepat berlalu dan banyak yang terbuang karena kelailaianku. Aku ingin mengganti waktu yang terbuang disaat aku kini.

Untuk pertama kali aku mendapatkan berita bahwa aku lolos seleksi betapa hatiku berbunga-bunga. Hari ini dalam satu waktu aku mendapatkan banyak nikmat dan kebahagiaan, kadang masih tidak bisa dipercaya. Bulan ini banyak hal yang harus kukerjakan dan semuanya menyenangkan bagiku. Alhamdulillah, ya memang segala puji hanya untukMu, tiada yang dapat menghindar dari apa yang telah Engkau tentukan. Ku merasakan bahwa inilah rangkaian sejarah kehidupanku. Betapa indah rangkaian itu walau kadang aku kepayahan tuk menjalaninya, tapi aku tak pernah menyesal dengan semua ini. Begitu banyak ku dapatkan anugerah terindah dalam hidupku. Ya Allah jadikanlah hamba ini termasuk kedalam golongan orang-orang yang pandai bersyukur.

Hari-hari di bulan Juni yang indah walau kadang ku merasakan lelah tetapi lelah ini membahagiakan jiwaku yang merindukan pengalaman-pengalaman baru. Banyak berita yang menyenangkanku dalam bulan ini, ku dapatkan tawaran job mengedit buku dari dosenku, menyelesaikan PKM ku yang tlah lolos dan mendapatkan biaya 5 juta, kemudian pengalaman indah yang menungguku di waktu ini yaitu Pelayaran Kebangsaan VII. Sebuah kesempatan yang besar untuk kujalani dan ingin kuraih harapan di hati bahwa semua ini harus lebih berarti.

5 hari sebelum keberangkatanku, kuselesaikan PKM bersama Diana dan Wafiq, sebuah keinginan besar untuk lolos dalam Pimnas nanti. Targetku kemudian ku selesaikan semua urusan yang berkaitan dengan persiapan PK 7. Untuk edit buku masih banyak waktu tuk menyelesaikannya nanti. Dan tentang tiket perjalanan kuserahkan pada kakakku yang manis mas mahfud. Perjalananku akan segera dimulai semoga semuanya menambah ilmuku dan memberikan pengalaman indah.

Catatan sejarah petualangan tanggal 9-22 juni 2007

9 Juni 2007

Ku mulai perjalananku menjadi musafir di bumiMu. Hari ini rencananya bis berangkat ke Jakarta Pkl. 13.00 tapi akhirnya molor sampai jam 15.00. Paginya aku masih sempat melihat teman-temanku yang wisuda, di depan auditorium kutemui mereka. Sebagian kulihat wajah mereka secerah harapan setelah lulus dari Perguruan ini. Kadang ku ingin cepat selesaikan kuliah ini tapi aku masih punya target lain yang harus kuselesaikan disini. Setelah mungkin satu jam aku menunggu di sana, akupun pulang untuk berangkat ke Jakarta. Jam 15 aku meninggalkan Prambanan, sebuah perjalanan yang belum pernah ku bayangkan. Dua kali ini aku melakukan perjalanan sendirian dengan bus, pertama dulu tahun 2004 aku ke salatiga dengan tanpa mengetahui denah daerah ku langkahkan kaki kesana karena permintaan orang tuaku tuk mengambil kesempatan pertama ikut seminar internasional yang di selenggarakan oleh Percik dengan dana dari Ford Foundation. Kemudian saat ke Jakarta inilah yang kedua kalinya melakukan perjalanan sendirian. Aku berangkat dengan bis Maju Lancar B VIP, yang kurasakan cukup nyaman. Sambil kuedarkan pandangan ke kanan kiri jalan, ku dengarkan alunan Q.S. Ar Rahman dengan satu ayat yang slalu terulang-ulang dan terngiang di hati, “nikmat manakah yang akan kamu dustakan” semakin membuat hati tak henti-hentinya merasakan betapa besarnya nikmatMu, Ya Allah YA RAHMAN.

Dalam perjalanan ke Jakarta ini aku duduk bersebelahan dengan seorang bapak-bapak yang pensiun dari sebuah kantor perpajakan. Beliau selalu menemaniku ngobrol dan kudapatkan banyak ilmu darinya. Dengan mendengarkan pernyataan-pernyataannya, menurutku beliau adalah orang yang bijaksana, yang mempunyai pengetahuan agama yang cukup luas dan beretika. Beliau mungkin orang yang disegani dikantornya karena dari sikapnya dia memiliki wibawa tersendiri. Beliau menceritakan sejarah perjalanan hidupnya hingga saat bertemu denganku dia ingin menjenguk anaknya yang sedang akan melahirkan di Jakarta.

10 Juni 2007

Ya Allah waktu terasa begitu cepat berlalu, waktu sudah mendekati pukul 3 pagi saat aku sampai di Jakarta, segera setelah turun di sana ku sms masq yang dibekasi. Limabelas menit kemudian masq sudah sampai di tempatku. Aq sampai di rumah kakak pukul setengah empat pagi. Kuhirup udara pagi Jakarta tetapi memang tak sesegar udara di desaku. Kedatanganku disambut oleh tiga keponakanku yang mash lucu dan imut serta kakak iparku yang asli Purworejo tapi sudah tak bisa sehalus orang sana. Seharian dirumah kakakku ini kuhabiskan dengan tiduran dan bermain dengan keponakanku, ku melihat di mata mereka akan kerinduan suasana Jawa di Prambanan desaku.

11 Juni 2007

Perjalanan sepanjang jalan ke tanjung Priuk, ku perhatikan kanan kiri jalan. Ku rasakan tak bisa menikmati suasana Jakarta ini. Kulihat orang-orang sudah tak peduli dengan kondisi sekitarnya. Udara yang kotor, bau asap yang menyengat serta jalanan yang rame bak kumbang beterbangan. Banyak kondisi yang saling menyimpang antar satu dengan yang lain, satu sisi gedung menjulang megah di sisi yang lain gubuk-gubuk tak terawatpun berdiri. Banyak pengamen dan gelandangan kulihat tapi banyak pula orang-orang yang hidup dengan kemewahannya. Ku perhatikan beberapa pengamen yang menyanyi di setiap pinggir jalan, ku melihat kerasnya kehidupan hanya untuk menyambung hari demi hari agar tetap bertahan di dunia ini. Kubertanya dalam benakku sempatkah mereka berpikir tentang kehidupan yang menunggu setelah kehidupan fana ini. Ataukah dunia telah membuat mereka lupa akan hakekat hidup yang sebenarnya.

Pukul sebelas aku sampai di Tanjung Priok, aku bersyukur ada mas Dayat yang menemani aku ke sini, mungkin tanpanya aku akan banyak tersesat. Sesampai disana aku menanda tangani daftar hadir peserta pelayaran kebangsaan.kemudian kuserahkan surat perjalananku ke panitia dan selanjutnya aku menyusul teman-teman yang lain ke kapal. Pertama kali masuk ku cium bau cat yang masih basah dan ternyata kapal ini masih baru. Ku edarkan pandanganku tuk mencari teman-teman yang lain. Ku melihat segerombolan akhwat yang mengumpul disana kumulai menyapa mereka dan tersenyum selanjutnya suasanapun mulai lebih akrab. Setelah lima belas menit diatas kapal, kru kapal meminta kami berkumpul di dek tank untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya diiringi marching band AL untuk pertama kalinya ku merasakan indahnya lagu ini, tak terasa mata ini menghangat ada haru disana. Dua kali kami menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama menambah hati untuk tetap semangat mencintai Indonesia. Setelah selesai menyanyikan Indonesia Raya, kami diberi perlengkapn berlayar yaitu tas dengan segala isinya da jaket, kostum merah putih, topi merah dan sebuah blok notte dan pen semuanya berlogokan pelayaran kebangsaan VII dengan warna biru dan sebuah gambar kapal perang seperti yang kami tumpangi.

Pukul 18.00 WIB perjalanan menuju ke istana Wapres Jusuf Kalla dengan bus AL yang berisikan 24 peserta. Sambil melihat suasana di jalan qt saling kenalan satu dengan yang dan sebutkan nama, universitas dan fakultas masing2. perjalan pertama dengan kawalan polisi. Ah jadi malu sama orang-orang’ qtkan” bukan pejabat.

Pukul 08.00 acara baru dimulai. Acara dibuka dengan sambutan dari mendiknas Bambang sudibyo dan menkokesra Abnu Rizal Bakrie.

 

Masih banyak pengalaman di hari-hari PKVII yang belum sempat ku tulis di sini, semoga ada kesempatan tuk selesaikan kisah perjalananku di Kapal KRI Makassar

Insya Allah bersambung….

by Azizah

 

Beradab or Tidak beradab

Filed under: hadist nabi — azizah @ 1:22 am

Orang yang paling berbahaya adalah orang yang tidak beradab. Karena tanpa memiliki adab, kita tak ada bedanya dengan binatang. Kita menjadi orang yang suka merusak, menghancurkan, dan tidak punya rasa malu.

Mungkin pada mulanya seseorang tidak beradab pada tataran makro, tetapi kemudian melebar hingga ke yang mikro. Misalnya saja, dia tidak lagi mempermasalahkan makan dengan menggunakan tangan kanan atau kiri. Baginya sama saja. Sebab keduanya adalah pemberian Tuhan. Ketika disodorkan hadits Nabi yang memerintahkan untuk menggunakan tangan kanan, dia menolak. Baginya, yang penting substansinya.

Demikianlah. Padahal hadits tersebut bersifat universal. Sungguh tidak beradab jika seseorang makan dengan tangan kiri sementara dengan tangan itu juga ia membersihkan kotoran di kemaluan dan duburnya. Atau seseorang yang membersihkan piring dengan celana dalam, sekalipun celana dalam itu baru dibelinya. Karena kita sebelumnya sudah mengenal adab dan sopan santun, sehingga kita mengatakan tindakan itu sebagai tindakan tidak beradab.

Tingkatan adab (ta’dib) lebih tinggi daripada ilmu (ta’lim), karena orang yang beradab sudah pasti orang yang berilmu. Tetapi orang yang berilmu belum tentu orang yang beradab. Buktinya? Apa kurang pintarnya Yahudi, tetapi ternyata Allah mencap mereka sebagai “Keledai yang membawa kitab-kitab”. (QS. al-Jumu’ah: 5). Kecerdasan mereka tidak disyukuri dan digunakan di jalan yang Allah ridhai. Kerancuan dan kerusakan yang terjadi di dunia Barat disebabkan karena mereka mengabaikan adab ini. Mereka bergelar Profesor Doktor tetapi kelakuannya menyimpang. Anehnya, mereka tetap dijadikan rujukan ilmu pengetahuan.

Sementara di dalam Islam, hal itu tidak terjadi. Para ulama dan Ilmuwan muslim adalah orang-orang yang menguasai agama sekaligus ilmu-ilmu keduniaan. Mereka adalah orang yang taat menjalankan perintah agama sekaligus orang yang sangat pakar di masing-masing bidangnya. Di dalam ilmu hadits dikenal istilah jarh wat ta’dil. Yaitu ilmu yang meneliti keadaan perawi hadits. Jika seorang perawi dikenal sering berdusta, berbuat maksiat, dan perbuatan buruk lainnya, otomatis perawi tersebut tidak diterima.

Saat ini bermunculan orang-orang yang berpandangan liberal. Mereka menyerap ilmu-ilmu Barat begitu saja tanpa adanya proses penyaringan dan penolakan. Memang, tidak ada yang salah jika kita mempelajari pemikiran orang-orang Barat, tapi bukan berarti kita harus ikut-ikutan kemana saja mereka menuju. Bahkan sampai ke jurang pun, oke-oke saja. Ini jelas sangat berbahaya. Orang yang bertaklid, kata Syaikh Yusuf al-Qaradhawi, tak ada bedanya dengan binatang yang dicucuk hidungnya. Kemana pun sang majikan menyeretnya, mereka pasti mengikutinya.

Karena falsafah pemikiran Barat dan Islam jauh berbeda, orang liberal memandang Islam dari kacamata pemikiran Barat. Karena dunia Barat saat ini sedang berada “di atas”, lantas mereka memandang Islam saat ini rendah, hina, sedang sakit. Kemudian mereka berpaling pada Barat dan meninggalkan Islam yang “sakit” itu. Padahal yang sakit itu umatnya, bukan Islam; yang harus diperbaiki itu umat, bukan Islam. Islam dari dulu hingga kiamat tetap mulia dan agama yang paling benar.
***
Sudah menjadi rahasia umum jika landasan pemikiran Barat adalah materialisme. Sekalipun saat ini banyak di antara pemikir Barat menyuarakan spritualisme. Tetapi spiritualisme yang mereka maksud adalah bukan agama. Mereka berpendapat bahwa seorang Albert Camus yang ateis itu adalah seorang spritualis. Spritualisme mereka adalah nama lain dari “bagian terdalam pada diri manusia.” Memang, agama, menurut mereka, memberikan saham bagi keberlangsungan spiritualitas manusia, tetapi tidak semuanya. Mereka membuang beberapa bagian dari ajaran agama yang menurut mereka bertentangan dengan “spiritualisme” . Mereka hanya mengambil mana yang baik menurut pemikiran mereka, tidak hanya dari satu agama, tetapi dari seluruh agama kemudian disatukannya. Inilah yang mereka maksud dengan spiritualisme.

Sedangkan menurut Islam, spiritualisme tidak bisa dipisahkan dari agama. Apa yang ada di dalam agama (baca: Islam) adalah sepenuhnya baik untuk manusia. Jika manusia belum menemukan kebaikan di dalamnya, karena akal manusia terbatas kemampuannya. Jadi, intinya, pemikir-pemikir Barat hampir tidak pernah bergeser dari pemikiran pendahulu-pendahulu nya. Mereka tetap condong pada materialisme sekalipun mereka kerap berbicara spiritualisme.

Jika sudah menyentuh definisi materialisme, ia akan membawa kita pada pemahaman bahwa dunia ini secara absolut di atur oleh undang-undang materi. Dengan demikian, ia menafikan adanya Allah (wujudullah) . Sehingga para ilmuwannya sering mengatakan, “Sains tidak bisa membuktikan Tuhan itu ada atau tidak ada.” Padahal bukti-bukti keberadaan Allah melalui sains sudah sangat banyak. Tapi, kenyataan itu selalu mereka pandang skeptis. Jadilah mereka memasuki sebuah lingkaran ketidakpastian selama-lamanya. Dan dengan sendirinya mereka memproklamirkan pandangan mereka: Kebenaran itu relatif, termasuk kebenaran agama.

Mereka bukanlah pengusung kebebasan sejati. Yang mereka usung adalah gaya kebebasan kelompok mereka sendiri. Jika ada suatu kelompok yang tertindas dan kelompok tersebut tidak sesuai dengan ideologi pemikiran mereka, mereka tidak akan membelanya. Mereka membela Amerika yang dizalimi oleh para teroris dan ekstrimis, tetapi mereka enggan membela saudara-saudara mereka di Palestina, Irak, Afghanistan yang notabene jauh lebih di zalimi. Bahkan mereka menuduh para mujahidin sebagai teroris dan berpikiran sempit. Mereka tidak ubahnya corong bagi para kapitalis kolonialis Barat. Oleh karena itu, tidak bisa disalahkan jika ada orang yang menuduh mereka sebagai antek-antek Barat.
***

Membaca berita di Sabili No. 9 Thn. XV tentang seorang dosen di sebuah Universitas Islam yang melecehkan hadits Nabi dan umat Islam, sepertinya bukan hal yang baru. Karena berita-berita pelecehan yang hampir sejenis, kerap dilakukan oleh orang-orang liberal. Dan hal ini sudah menjadi tipikal mereka, yaitu tidak beradab pada agamanya sendiri. Orang-orang liberal bisa saja mengatakan bahwa itu hak mereka mengatakan atau melakukan pelecehan itu. Hak mereka menginjak-nginjak kitab suci.

Tentu saja terserah meraka mengatakannya seperti itu, tapi mereka harus menyadari bahwa kewajiban itu ada di atas hak. Dan kewajiban kita terhadap orang lain adalah menghormatinya. Artinya, kebebasan itu ada batasnya. Tidak seenaknya saja orang mengatakan ini itu kecuali orang itu tidak beradab alias binatang.

 

Nasionalisme dalam perspektif islam December 19, 2007

Filed under: kebangsaan — azizah @ 8:10 am

jika Islam memandang nasionalisme, seperti apakah?

jika mencintai dan membela negeri sendiri adalah suatu wujud dari sebagian iman

lalu bagaimanakh dengan konsep khilafah islamiyah?

yang ingin menyatukan Islam dalam satu khilafah.

ada beberapa pendapat tentang ini dan saya menemukan artikel berikut

Dr. Bachtiar Effendi:

Islam dan Nasionalisme tidak Mesti Bertentangan

29/08/2005

Hubungan antara Islam dengan nasionalisme tidak mesti bersifat diametral. Menjadi seorang muslim yang baik, tidak berarti menjadi seorang yang anti-nasionalisme. Fakta itulah yang telah ditunjukkan para perintis perjuangan kemerdekaan Indonesia tempo dulu. Demikian sekelumit perbincangan Burhanuddin dari Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan Dr. Bachtiar Effendi, dosen Pascasarjana UI, Kamis (18/8) lalu.

Hubungan antara Islam dengan nasionalisme tidak mesti bersifat diametral. Menjadi seorang muslim yang baik, tidak berarti menjadi seorang yang anti-nasionalisme. Fakta itulah yang telah ditunjukkan para perintis perjuangan kemerdekaan Indonesia tempo dulu. Demikian sekelumit perbincangan Burhanuddin dari Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan Dr. Bachtiar Effendi, dosen Pascasarjana UI, Kamis (18/8) lalu.BURHANUDDIN: Mas Bachtiar, kini muncul suatu genre muslim transnasional yang tidak tidak lagi mau terbatasi kantor imigrasi dan paspor. Beberapa kelompok umat Islam merasa tidak perlu disatukan oleh nation, tapi oleh persamaan agama. Apa komentar Anda?Bachtiar EffendiBACHTIAR EFFENDI: Problemnya, pertanyaan Anda mengambil contoh-contoh dari orang yang sedang bermasalah. Sebetulnya kita bisa melihat persoalan itu dari perspektif lain, misalnya dari segi ajaran dan sejarah. Dari segi ajaran, Islam itu memang tidak mengenal batas-batas geografis. Jadi kalau dikatakan transnasional, transbangsa, transsuku, transdaerah, saya kira doktrinnya memang seperti itu. Dari segi wilayah kekuasaan, dulunya juga begitu.

Kalau sedang mengajar tema Islam dan globalisasi, saya memang mengemukakan bahwa banyak juga orang-orang Islam yang khawatir terhadap globalisasi, karena kemungkinan atau potensinya untuk mensubordinasi Islam. Jadi pergumulan antara Islam dan globalisasi itu mirip pergumulan antara Islam dan modernitas yang sampai sekarang belum selesai. Tidak semua orang Islam bahagia dengan pergumulan itu, karena mereka merasa berada di posisi yang pinggiran dan kalah.

Tapi kalau kita lihat soal globalisasi dari sudut lain, sebetulnya nilai-nilai universal atau âlamî itulah yang sering orang-orang Islam katakan akan diperjuangkan. Doktrin itu sebetulnya mengandung paralelisme dengan globalisasi. Dan gagasan itu sebetulnya bukan gagasan-gagasan yang hanya dikenal di kalangan ekslusif Islam saja. Kalau meninjau kembali gagasan-gagasan Nurcholis Madjid, kita akan menemukan doktrin-doktrin Islam yang global, universal, dan transnasional. Ketika dia mengatakan bahwa ketaatan dan loyalitas itu harus pada Islam saja, bukan kepada partai atau ideologi, itu sebetulnya juga berarti ketaatan bukan pada teritori dan bangsa.

BURHANUDDIN: Kalau dari sudut doktrin, bukan hanya Islam yang mengklaim transnasional. Semua Abrahamic religion masuk kategori transnasional, kan?

Ya. Seingat ilmu perbandingan agama saya, kecuali agama Yahudi. Tapi saya tahu, pertanyaan Anda bukan soal Islam transnasional dari sudut doktrin dan ajaran. Ketika diletakkan dalam konteks ajaran dan doktrin, sudah tidak ada masalah. Contohnya ibadah haji. Di waktu haji, tidak ada persoalan dalam pertemuan antara orang-orang Islam Wonosobo dengan orang Islam Citagong.

Tapi ketika pertanyaan lebih spesifik lagi, misalnya soal sikap orang Islam terhadap konflik Irak dan Kuwait, atau Irak dan Iran, maka akan jadi problematis. Bagaimana sikap orang Islam terhadap kebijakan Bung Karno yang ingin mengganyang Malaysia dulunya, menjadi sedikit problematis. Apakah dalam soal seperti itu orang Islam akan berpihak kepada doktrin atau kenyataan?

Secara doktrin, orang Islam memang tidak mengenal batas-batas kewilayahan, kebangsaan, negara, bendera, dan macam-macam simbol lainnya. Tapi kehidupan mereka sehari-hari juga diletakkan dalam batasan-batasan itu. Misalnya, ketika kita sedang konfrontasi dengan Malaysia dalam kasus Ambalat, bagaimana sikap orang Islam Indonesia? Apakah agama masih ada fungsinya dalam melihat persoalan itu? Apakah pemerintah tiap-tiap negara tidak menyisihkan faktor agama yang mengatakan kita bersaudara tanpa batas-batas wilayah dalam menentukan kebijakan?

BURHANUDDIN: Dalam kenyataan, ada saja sekelompok muslim yang konsisten meletakkan agama di atas bangsa dan setia mengampanyekan gagasan khilafah universal yang lintas negara. Bagi mereka, nasionalisme tidak penting bahkan tercela. Apa pendapat Anda?

Kalau batasan-batasan khilafah itu diletakkan dalam konteks doktrin agama saja, tentu tidak ada persoalan. Tapi kalau batasan-batasan khilafah itu diletakkan dalam kerangka nation-state yang lain, yang lebih besar, maka nation-nya akan menjadi nation Islam. State-nya adalah wilayah mana saja yang bisa dikuasai umat Islam. Jadi semacam macro nation-state. Saya kira, pandangan seperti itu bukan persoalan agama lagi, tapi sudah persoalan politik. Dan kalau soalnya politik, saya bisa berbeda, Anda bisa berbeda, dan siapa pun bisa berbeda pendirian.

Saya kira, soal seperti itu tidak ada hubungannya dengan tebal dan tipisnya iman seseorang, dan tidak ada kaitan dengan halal dan haram. Jadi kalau kawan-kawan di Hizbut Tahrir misalnya percaya bahwa tekanan geo-politik orang-orang Islam itu harus Pan-Islamic State, atau Pan-Caliphate State, silakan saja diperjuangkan, kalau bisa.

BURHANUDDIN: Secara historis, kekhilafahan Islam pernah eksis di dunia Islam. Tapi di zaman modern, orang lebih memilih nasionalisme. Tapi pertarungan antara ide lama dengan ide baru itu nampaknya tetap berlangsung.

Mungkin ada pandangan seperti itu. Tapi saya ingin memikirkan soal ini secara jernih. Misalnya, apakah gagasan tentang khilafah itu gagasan keagamaan atau gagasan politik? Saya bukan sejarawan, tapi kalau pemahaman sejarah saya masih bisa diterima, khilafah itu sebetulnya konsekuensi saja dari penaklukan demi penaklukan yang dilakukan penguasa-penguasa Islam. Kebetulan, ketua, penguasa, presiden, atau siapa pun yang memimpin di kala itu disebut khalifah. Mestinya, semua itu perlu dilihat sebagai gagasan yang bersifat non-agama. Bahwa di dalamnya ada unsur-unsur dan nilai-nilai agama, mungkin saja. Tapi saya kira itu persoalan politik.

Lantas tentang nation, sebetulnya sejak abad ke-18 dan ke-19 sudah mulai terjadi kompartementalisasi wilayah-wilayah di dunia. Dalam bentuk yang modern, juga terjadi balkanisasi, seperti terpecahnya negara-negara kecil di Semenanjung Balkan. Memang dasar-dasarnya bisa nation atau kesatuan bangsa, dan bisa juga agama. Tapi kenyataannya, kita hidup di alam modern yang berbasis nation-state. Gelora nasionalisme dan lain sebagainya itu, selalu saja diletakkan dalam konteks bagaimana memerdekakan diri dari penjajahan dan penguasaan pihak asing. Makanya banyak sejarawan menulis tentang fajar atau bangkitnya nasionalisme di awal abad ke-20, baik di Asia, Afrika, dan tempat-tempat lainnya. Sebab, memang pada awal abad ke-20 itulah kekuatan-kekuatan dan belenggu-belenggu kolonial mulai terlepas.

Kalau kita letakkan dalam konteks seperti itu, kita juga bisa berbicara mengenai nasionalisme sekarang ini dalam perspektif yang lain. Umpamanya, secara fisik kita memang tidak lagi terikat oleh praktik-praktik kolonialisme masa lampau. Tapi kalau bicara secara substansial, banyak mereka yang menganut nasionalisme seperti Bung Karno. Nasionalisme Bung Karno tahun 1950-an itu masih ada terkait dengan kehendak lepas dari belenggu penjajah. Perhatikan saja bagaimana sikap Bung Karno terhadap modal dan bantuan luar negeri, kekuatan-kekuatan raksasa luar, atau dunia Barat. Dia sudah punya kekhawatiran akan terjadinya cengkraman atas dunia ketiga.

Itulah yang dulunya menghantui Bung Karno, dan tidak lagi menghantui orang-orang sekarang yang sudah hidup berjarak sekian lama dengan masa kolonial. Soekarno yang nasionalis itu, pada tahun 1950 dan 1960-an juga sudah mengatakan, ”Kita memang sudah merdeka. Tapi jangan lupa, masih ada neo-imperalisme!” Gagasan seperti itu kan tidak pernah mati, dan sampai tingkat tertentu masih terdapat orang-orang yang sampai sekarang meng-entertaint gagasan-gagasan seperti itu.

BURHANUDDIN: Mas Bachtiar, kaum intelektual selalu membedakan stratifikasi sosial-politik umat Islam Indonesia dengan kategori Islamis dan nasionalis. Di kategori seperti itu, orang Islam masih tampak tersudut atau paling tidak tercurigai kadar nasionalismenya.

Memang ada saja yang berpemahaman bahwa nasionalisme harus kita berikan prasyarat-prasyarat tertentu. Ada pemahaman yang ideologis, dan ada saja pemahaman yang menjadikan nation-state sebagai sebuah ideologi. Tapi ada juga yang memahami nasionalisme sebagai rasa cinta negara, cinta tanah air. Bagi saya, siapa pun yang meragukan nasionalisme orang-orang Islam masa lalu, dia harus membaca kembali apa yang pernah dilakukan Cokroaminoto, dan jangan hanya membaca perdebatan-perdebatan Soekarno di satu pihak, Muhammad Natsir, Agus Salim dan yang lainnya di pihak lain.

Cobalah pahami lagi apa yang dilakukan Cokroaminoto melalui Syarikat Islam (SI) pada masa itu. Dalam pandangan sejarawan tertentu, cikal bakal gerakan nasionalisme yang paling awal dan yang sungguh-sungguh di Indonesia adalah gerakan SI yang dimotori Cokroaminoto, bukan sekolah Stovia dengan Budi Utomo dan lainnya itu. Gerakan Budi Utomo itu hanya terdiri dari beberapa orang atau 50-an orang saja. Tapi SI itu luar biasa. Dalam satu tahun saja, keanggotaannya bisa sekian banyak, dan semuanya aktif mengobarkan api nasionalisme.

Tentu saja itu tidak bisa dipahami dalam konteks ideologis. Saya nasionalis, tapi mungkin ideologi saya lain. Orang lain disebut nasionalis, tapi ideologinya berbeda dengan saya. Kategori-kategori yang diciptakan ilmuan-ilmuan sosial dan para sejarawan tentang kelompok-kelompok orang Indonesia, sebetulnya masih klasifikasi yang ideologis. Semua itu tidak ada hubungannya dengan soal cinta tanah air seseorang. Orang-orang yang dibilang kelompok Wahid Hasyim, Sukiman, dan Mohammad Roem, tidak kurang cintanya pada Indonesia. Hanya saja, mereka punya perspektif atau weltanschaung sendiri yang berbeda dari Soekarno tentang Indonesia.

BURHANUDDIN: Saya kira sebaliknya juga betul. Soekarno itu juga pembaca Islam yang baik. Cokroaminoto tentu seorang nasionalis yang tidak bisa kita ragukan. Apa pelajaran yang bisa kita tarik dari para founding fathers kita itu?

Kalau mau belajar, apa yang dilakukan Bung Karno, Hatta, Sjahrir, Wahid Hasyim, Sukiman, Bagus Hadikusumo dan lain-lain itu, sebetulnya tidak ada hubungannya dengan nasionalisme atau tinggi-rendahnya tingkat kecintaan mereka terhadap nation bernama Indonesia. Mereka hanya dibedakan oleh sudut pandang masing-masing. Yang satu ingin Islam sebagai dasar negara, yang lain menginginkan Pancasila; yang satu menginginkan agama sebagai dasar kebangsaan, yang lain ingin kesatuan bangsa.

Sebetulnya itu yang harus kita pahami benar supaya tidak muncul kategori-kategori yang tidak tepat. Saya kira, tidak ada hubungan antara nasionalisme dengan penerimaan atas Pancasila. Juga tidak ada hubungan yang diametral antara nasionalisme dan Islam. Jadi, seseorang bisa menjadi muslim yang taat sekaligus seorang nasionalis, atau menganut ideologi Pancasila dan sekaligus nasionalis.

Kita tahu, semua pejuang kemerdekaan kita dulunya paham betul bahwa mereka sedang berhadapan dengan Indonesia yang bhineka atau beragam. Jadi soal persatuan dan kebersamaan itu menjadi sesuatu yang penting. Dalam pandangan Pak Natsir, yang bisa menyatukan kita adalah Islam. Tapi dalam pandangan Soekarno, yang bisa menyatukan adalah Pancasila. Hanya itu saja titik perbedaan antar mereka.

Kesalahan yang dibuat kalangan ilmuwan sosial adalah menyamakan atau mengait-ngaitkan antara perbedaan ideologis antara Islam dan Pancasila dengan rasa cinta tanah air. Itu yang menurut saya salah. Pak Deliar Noer menganggap orang-orang seperti Natsir itu seorang nasionalis-islami atau religius, sementara Soekarno dianggap religiously neutral nationalist atau nasionalis yang netral agama. Pak Syaifuddin Ansari bahkan menyebut Soekarno nasionalis-sekuler. Kategori seperti itu menurut saya juga tidak tepat betul, dan kita harus hati-hati dengan kategori-kategori yang enak didengar tapi bisa missleading itu.

Siapa yang bisa meragukan keislaman Soekarno? Memang harus kita katakan, yang paling tahu keimanan dan keislaman Soekarno tentu saja Tuhan. Tapi dengan akal sehat kita bisa menelusuri bahwa dia seorang yang belajar Islam secara intens dengan Cokroaminoto. Jadi sebenarnya, bapak nasionalisme Indonesia sekaligus bapak politik orang Islam itu adalah Cokroaminoto. Nah, Soekarno itu belajar Islam dari Cokroaminoto dan Cokroaminoto sangat percaya pada Soekarno. Dia (Cokroaminoto) tidak sedikit pun meragukan keislaman Soekarno.

Dengan seluruh nilai-nilai ke-Jawa-an, saya harus katakan: tidak mungkin Cokroaminoto akan menyerahkan putrinya untuk dinikahi Soekarno kalau dia masih meragukan keislaman Soekarno. Pernikahan Soekarno dengan Utari itu memang tidak berlangsung lama, tapi itu jelas bukti konkret bahwa Cokroaminoto percaya pada Soekarno.

Ketika dibuang di Pulau Ende sana, Soekarno juga rutin berkomunikasi tentang Islam dengan Pak Natsir dan gurunya Hasan Bando, seorang pemimpin Persis. Dan kalau kita baca tulisan-tulisannya, kita tahu bahwa itu luar biasa; mencerminkan keprihatinan, kegelisahan, dan komitmennya terhadap nilai-nilai keislaman.

Gejala seperti itu kan terjadi di mana-mana, dan perbedaan itu biasa saja terjadi. Yang satu ingin melihat Islam seperti ini, yang satu ingin seperti itu. Semuanya didasarkan pada rasa cinta terhadap Islam. Yang satu ingin lebih diformalkan, yang lain ingin lebih diletakkan dalam konteks kekiniaan. Di dalam sebuah tulisannya tentang Masyarakat Kapal Udara, Bukan Masyarakat Onta, Soekarno pernah bertanya: bagaimana menyikapi tata cara fikih yang menganjurkan pembasuhan enam kali dengan air dan sekali dengan tanah ketika kita dijilat anjing?

Mungkin Soekarno berpikir, kalau cuma dibasuh sekali dua kali dengan air, mungkin kotornya tidak bisa bersih. Asumsinya, dengan tanah bisa bersih. Tapi sekarang kan sudah ada Kreolin. Dalam benak Soekarno, itu cukup sekali basuh, tapi dengan alat pembersih. Nah, pandangan sepeti itu tidak ada hubungannya dengan liberal dan tidak liberalnya seseorang, tapi hanya soal logika-logika saja.

BURHANUDDIN: Mas Bachtiar, pada masa Orba, nasionalisme tampaknya ditafsirkan top-down, sehingga masyarakat tidak menganggapnya sebagai ide kreatif dari bawah. Lalu, nasionalisme dianggap paket rezim status quo yang bertindak totaliter. Apa kontribusi yang layak diajukan umat Islam untuk menafsirkan ulang nasionalisme?

Saya kira, mengharapkan Islam tidak punya pengaruh dan peran apa-apa sembari berdiri di pojok sana dalam seluruh proses nation building, dan day to day politic mungkin tidak pernah akan kesampaian. Saya tidak katakan naïf, tapi sulit berharap pada pikiran seperti itu. Saya kira orang-orang Islam juga tahu bahwa mereka hidup di Indonesia. Walaupun secara doktrinal Islam itu bersifat universal, tapi penafsiran atas gagasan-gagasan keislaman, sebagian besar juga tidak bisa lepas dari kondisi di mana sang penafsir berada. Karena kebetulan mereka berada di Indonesia, karakter dan hal-hal yang mewarnai ke-Indonesia-an juga tidak bisa dilepaskan dalam menafsirkan Islam. Artinya Islam tidak berkembang di alam yang vakum.

Karena itu, Islam dan nasionalisme tidak perlu atau harus dipertentangkan. Adanya pertentangan-pertentangan itu sebetulnya muncul dari prasangka dan ketakutan-ketakutan saja. Misalnya saja prasangka atas globalisasi. Hal-hal yang terjadi di sini dengan segera bisa diketahui di luar sana, dan bahkan diasumsikan adanya kekuatan-kekuatan besar yang bisa mendikte kita.

Saya baru membaca buku Confessions of an Economic Hit Man, sebuah pengalaman pribadi John Perkins. Di situ dia mengungkap bahwa kita tidak bisa menolak bahwa di dunia ini selalu saja ada kekuatan-kekuatan pengintai yang membuat dunia ketiga selalu bergantung secara ekonomi. Karena itu, wajar kalau ada saja orang yang mengatakan kalau kita ini kurang nasionalis dalam perdebatan seputar kebijakan ekonomi. Tapi di lain pihak, ada juga yang mengatakan bahwa nasionalisme kita terlalu sempit. Nah, bagi saya, Islam harus diletakkan di dalam konteks kekinian dan di mana kita berada untuk mencari posisi yang tepat.

BURHANUDDIN: Tapi nampaknya belakangan ada tantangan serius atas nasionalisme dengan penempatan agama atau suku pada posisi di atas kebangsaan. Akibatnya, muncul persepsi tentang second member of society atau anggota masyarakat kelas dua. Tanggapan Anda?

Ini memang sesuatu yang sulit dihindari, apalagi pada masa di mana orang merasa boleh bicara dan berpendapat apa saja. Ini saya kira juga harga atau konskuensi yang harus bayar bersama ketika memutuskan bahwa sistem yang berlaku pada masa Pak Harto dulunya sudah tidak bisa lagi dipertahankan. Sekarang orang tidak bisa lagi mengatakan “kamu jangan bicara seperti itu” pada pihak mana saja. Tapi kita tidak bisa hidup bernegara kalau kebebasan itu tidak didasarkan pada sebuah aturan-aturan yang disepakati bersama.

Masa transisi ini tidak menghadirkan sesuatu yang bersifat selesai. Mungkin juga ada pihak-pihak yang tidak suka pada amandemen UUD 1945 dan ingin mengembalikan posisi UUD 1945 pada bentuk awalnya. Sesuatu yang harus kita perhatikan secara sungguh-sungguh adalah: di alam kebebasan, kondisi seperti itu tidak bisa kita pertahankan kalau tidak ada nilai-nilai dasar yang kita sepakati bersama.

http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=870

 

Agungkan Ilmu di dalam hatimu December 18, 2007

Filed under: Dunia Muslim — azizah @ 4:25 am

 

Agungkan Ilmu dalam Hatimu

 

Penulis: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Bintu ‘Imran

Dunia, memang masih menjadi orientasi utama banyak orang. Tak heran, harta yang berlimpah, jabatan, popularitas, dan berbagai bentuk kesenangan lainnya menjadi buruan manusia siang malam. Padahal dunia adalah fatamorgana, kesenangan yang dirasakan akan menyisakan kehampaan, kepedihan, dan keletihan. Hanya ilmu agama yang bisa meredam ambisi manusia terhadap sifat serakah terhadap dunia.

Siapa yang tak mengharapkan anaknya menjadi seorang yang punya kedudukan? Sepertinya, hampir tak ada orangtua yang tak memiliki bayangan cita-cita setinggi langit untuk anak mereka. Biasanya, sejak si anak masih dalam buaian, mereka telah menyimpan berbagai keinginan dan harapan. Pokoknya, yang terbaiklah yang ada dalam angan-angan. “Semoga anakku menjadi ‘orang’, semoga memiliki masa depan yang lebih baik dari pada ibu bapaknya, semoga jadi orang yang paling ini, paling itu ….” dan sejuta lambungan ’semoga’ yang lainnya.

Tak berhenti sampai di situ, bahkan segala yang dapat mendukung tercapainya cita-cita itu pun turut disediakan sejak dini. Mulai dari tabungan biaya pendidikan, sampai prasarana yang diperkirakan menunjang pun disiapkan baik-baik. Berbagai pendidikan prasekolah pun diikuti agar melicinkan jalan si anak memperoleh cita-citanya atau justru cita-cita orangtuanya.

Namun di balik segala cita-cita, ada sebuah kemuliaan yang seringkali justru terluputkan, bahkan diremehkan oleh banyak orangtua. Padahal inilah kemuliaan hakiki yang akan didapatkan oleh si anak jika dia benar-benar meraihnya. Kemuliaan yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Kitab-Nya yang mulia:

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوْتُوا العِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat.”(Al-Mujadilah: 21)

Demikianlah, dalam kalam-Nya ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan bahwa Dia akan mengangkat derajat orang yang beriman lagi berilmu di atas orang yang beriman namun tidak berilmu. Ketinggian derajat akan diperolehnya di dunia berupa kedudukan yang tinggi serta reputasi yang baik, juga akan dicapai pula di akhirat berupa kedudukan yang tinggi di dalam surga. (Fathul Bari 1/186)

Mengapa tak cukup kedudukan dan kekayaan sebagai bekal? Bukankah dengan itu anak akan mendapatkan segalanya? Nampaknya benar bila kita tak mengkaji dalam-dalam. Namun sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan, sebagaimana yang disampaikan oleh Abu Kabsyah Al-Anmari radhiyallahu ‘anhu:

إِنَّمَا الدُّنْيَا لأَرْبَعَةِ نَفَرٍ: عَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالاً وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِي مَالِهِ رَبَّهُ وَيَصِلُ فِيْهِ رَحِمَهُ وَيَعْلَمُ لِلهِ فِيْهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالاً، فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُوْلُ: لَوْ أَنَّ لِي مَالاً لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلاَنٍ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ وَهُمَا فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالاً وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا، فَهُوَ يَخْبِطُُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لاَ يَتَّقِي فِيْهِ رَبَّهُ وَلاَ يَصِلُ فِيْهِ رَحِمَهُ وَلاَ يَعْلَمُ لِلهِ فِيْهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ، وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللهُ مَالاً وَلاَ عِلْمًا فَهُوَ يَقُوْلُ: لَوْ أَنَّ لِي مَالاً لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلاَنٍ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ

“Dunia itu diberikan kepada empat golongan: (1) seorang hamba yang Allah anugerahi harta dan ilmu, maka dia pun bertakwa kepada Rabbnya dalam hal hartanya, menggunakan hartanya untuk menyambung tali kekerabatan dan mengetahui bahwa Allah memiliki hak dalam hartanya itu, maka dia berada pada derajat yang paling mulia di sisi Allah. (2) Dan seorang hamba yang Allah karuniai ilmu namun tidak diberi harta, dia adalah seorang yang benar niatnya. Dia katakan, ‘Seandainya aku memiliki harta, aku akan beramal seperti amalan Fulan’, maka dengan niatnya itu pahala mereka berdua sama. (3) Juga seorang hamba yang Allah beri harta namun tidak dikaruniai ilmu, sehingga dia gunakan hartanya tanpa ilmu. Dia tidak bertakwa kepada Rabbnya dalam hartanya itu, tidak menggunakannya untuk menyambung tali kekerabatan, dan tidak pula mengetahui ada hak Allah dalam hartanya, maka dia berada pada derajat yang paling hina di sisi Allah. (4) Dan seorang hamba yang tidak Allah beri harta maupun ilmu, lalu dia mengatakan, ‘Seandainya aku memiliki harta aku akan berbuat seperti perbuatan Fulan’, maka dengan niatnya itu dosa mereka berdua sama.” (HR. At-Tirmidzi no. 2325, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi: Shahih)

Dengan begitu, jelaslah bahwa sekedar bekal harta takkan cukup bagi seseorang. Perlu sesuatu yang lebih penting daripada itu, yang justru nanti akan menyelamatkannya dari kerusakan dalam mengelola harta yang dimilikinya. Itulah ilmu. Akan berbeda tentunya orang yang mengetahui syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan orang yang tidak mengetahuinya, bagaikan perbedaan siang dan malam, sebagaimana Allah firmankan dalam Tanzil-Nya:

هَلْ يَسْتَوِي الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لاَ يَعْلَمُوْنَ

“Apakah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu?” (Az Zumar: 9)

Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah menasehatkan tentang keutamaan ilmu dibandingkan dengan harta:

العِلْمُ خَيْرٌ مِنَ الْمَالِ، العِلْمُ يَحْرُسُكَ وَأَنْتَ تَحْرُسُ الْمَالَ، العِلْمُ يَزْكُو عَلَى العَمَلِ وَالْمَالُ تُنْقِصُهُ النَّفَقَةُ، وَمَحَبَّةُ العَالِمِ دِيْنٌ يُدَانُ بِهِ، العِلْمُ يُكْسِبُ العَالِمَ الطَّاعَةَ فِي حَيَاتِهِ، وَجَمِيْلَ اْلأُحْدُوْثَةِ بَعْدَ مَوْتِهِ، وَصَنِيْعَةُ الْمَالِ تَزُوْلُ بِزَوَالِهِ، مَاتَ خُزَّانُ اْلأَمْوَالِ وَهُمْ أَحْيَاءُ وَالْعُلَمَاءُ بَاقُوْنَ مَا بَقِيَ الدَّهْرُ، أَعْيَانُهُمْ مَفْقُوْدَةٌ وَأَمْثَالُهُمْ فِي القُلُوْبِ مَوْجُوْدَةٌ

“Ilmu itu lebih baik daripada harta, karena ilmu akan menjagamu sementara harta harus engkau jaga. Ilmu akan terus bertambah dan berkembang dengan diamalkan sementara harta akan terkurangi dengan penggunaan. Dan mencintai seorang yang berilmu adalah agama yang dipegangi. Ilmu akan membawa pemiliknya untuk berbuat taat selama hidupnya dan akan meninggalkan nama yang harum setelah matinya. Sementara orang yang memiliki harta akan hilang seiring dengan hilangnya harta. Pengumpul harta itu seakan telah mati padahal sebenarnya dia masih hidup. Sementara orang yang berilmu akan tetap hidup sepanjang masa. Jasad-jasad mereka telah tiada, namun mereka tetap ada di hati manusia.” (dinukil dari Min Washaya As-Salaf, hal. 13-14)

Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu pernah pula mengatakan:

بَابٌ مِنَ الْعِلْمِ يَتَعَلَّمُهُ الرَّجُلُ خَيْرٌ لَهُ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

“Satu bab ilmu agama yang dipelajari oleh seseorang lebih baik baginya daripada dunia seisinya.” (dinukil dari Waratsatul Anbiya`, hal. 18)

Ayat-ayat di dalam Al-Qur`an, maupun Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan kemuliaan orang yang berilmu amat berbilang banyaknya. Ayat dalam surah Al-Mujadilah di atas adalah salah satunya. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memerintahkan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta tambahan sesuatu kecuali ilmu:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah: Wahai Rabbku, tambahkanlah ilmu padaku.” (Thaha: 114)

Ash-Shadiqul Mashduq (yang jujur dan dibenarkan kabar yang dibawanya), Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa orang berilmu akan mendapatkan kebaikan hakiki dari sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini disampaikan Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma ketika berkhutbah:

سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ: مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ

“Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan kebaikan, maka Allah akan faqihkan dia dalam agama’.” (HR. Al-Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini menunjukkan keutamaan ilmu dan memahami agama serta berisi anjuran untuk mendapatkannya. Karena semua ini akan menuntun seseorang untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Syarh Shahih Muslim, 7/127)

Dari sini bisa dipahami pula bahwa orang yang tidak memahami agama –dalam arti mempelajari kaidah-kaidah Islam dan segala yang berkaitan dengannya– berarti Allah Subhanahu wa Ta’ala haramkan dari kebaikan. (Fathul Bari, 1/217)

Inilah yang dicita-citakan oleh para pendahulu kita yang shalih. Mereka tidak bercita-cita agar anak mereka kelak menjadi hartawan atau penguasa, karena mereka sangat memahami, kemuliaan dan kebaikan mana yang hakiki. Oleh karena itu, mereka senantiasa berupaya agar anak-anak mereka menjadi anak-anak yang berhias dengan adab yang tinggi dan berbekal dengan ilmu. Mereka merasakan kebanggaan bila si anak memiliki pemahaman terhadap syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala ini lebih dari kebanggaan apa pun, dan merasakan penyesalan bila si anak terlewatkan dari keutamaan seperti ini.

‘Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu menyertakan putranya, ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma untuk duduk di majelis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama orang-orang dewasa dari kalangan para sahabat. Ibnu ‘Umar adalah peserta termuda dalam majelis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. ‘Umar pun merasa bangga bila sang putra memiliki ilmu lebih daripada yang dimiliki orang lain yang ada di situ. Peristiwa ini dikisahkan sendiri oleh ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma:

كُنَّا عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: أَخْبِرْنِي بِشَجَرَةٍ تُشْبِهُ أَوْ كَالرَّجُلِ الْمُسْلِمِ لاَ يَتَحَاتُّ وَرَقُهَا وَلاَ وَلاَ وَلاَ، تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِيْنٍ. قَالَ ابْنُ عُمَرَ: فَوَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ، وَرَأَيْتُ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ لاَ يَتَكَلَّمَانِ، فَكَرِهْتُ أَنْ أَتَكَلَّمَ. فَلَمَّا لَمْ يَقُوْلُوْا شَيْئًا قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هِيَ النَّخْلَةُ. فَلَمَّا قُمْنَا قُلْتُ لِعُمَرَ: يَا أَبَتَاهُ، وَاللهِ لَقَدْ كَانَ وَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ. فَقَالَ: مَا مَنَعَكَ أَنْ تَكَلَّمَ؟ قَالَ: لَمْ أَرَكُمْ تَكَلَّمُوْنَ فَكَرِهْتُ أَنْ أَتَكَلَّمَ أَوْ أَقُوْلَ شَيْئًا. قَالَ عُمَرُ: لأَنْ تَكُوْنَ قُلْتَهَا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كَذَا وَكَذَا

“Kami dulu pernah duduk di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bertanya pada kami, ‘Beritahukan padaku tentang sebuah pohon yang menyerupai atau seperti seorang muslim, tak pernah gugur daunnya, tidak demikian dan demikian, selalu berbuah sepanjang waktu.’ Ibnu ‘Umar berkata, ‘Waktu itu terlintas dalam benakku bahwa itu adalah pohon kurma. Namun aku melihat Abu Bakr dan ‘Umar tidak menjawab apa pun sehingga aku pun merasa segan pula untuk menjawabnya. Ketika para shahabat tidak menjawab sedikit pun, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Itu pohon kurma.’ Saat kami telah bubar, kukatakan pada ayahku ‘Umar, ‘Wahai ayah, demi Allah, sesungguhnya tadi terlintas dalam benakku, itu adalah pohon kurma.’ Ayahku pun bertanya, ‘Lalu apa yang membuatmu tidak menjawab?’ Ibnu ‘Umar menjawab, ‘Aku melihat anda semua tidak berbicara sehingga aku merasa segan pula untuk menjawab atau mengatakan sesuatu.’ Kata ‘Umar, ‘Sungguh kalau tadi engkau menjawab, itu lebih kusukai daripada aku memiliki ini dan itu!’.” (HR Al-Bukhari no. 4698)

Para pendahulu kita amat bersemangat agar anak-anak mereka memiliki pendidik semenjak kecil dan benar-benar berpesan pada si anak agar bersemangat belajar. Mereka pun betul-betul perhatian dengan memberikan sarana yang akan digunakan anak mereka untuk menuntut ilmu. Seperti ‘Utbah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu yang berpesan kepada pendidik putranya: “Ajarilah dia Kitabullah, puaskan dia dengan hadits dan jauhkan dia dari syi’ir.” (dinukil dari Waratsatul Anbiya`, hal. 30)

Banyak gambaran dalam kehidupan salafush shalih yang melukiskan semangat mereka terhadap pendidikan anak yang dilatari dan dilandasi dengan Kitabullah dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka ajarkan pada si anak tentang beratnya perjalanan menuntut ilmu dengan segala aral merintang. Bahkan mereka tak segan kehilangan harta untuk perjalanan anak-anak mereka menuntut ilmu agar kelak dapat memberikan manfaat pada diri si anak sendiri dan lebih dari itu, pada Islam dan kaum muslimin.

‘Ali bin ‘Ashim Al-Wasithi rahimahullahu menceritakan tentang kesungguhan pengorbanan ayahnya, “Ayahku pernah memberiku uang seratus ribu dirham sambil berkata, ‘Pergilah untuk menuntut ilmu, dan aku tak ingin melihat wajahmu kecuali setelah engkau menghapal seratus ribu hadits!’.” ‘Ali pun pergi jauh untuk menuntut ilmu, kemudian pulang untuk mengajarkan ilmu yang didapatkannya, sampai-sampai yang hadir di majelisnya lebih dari tigapuluh ribu orang. (dinukil dari Waratsatul Anbiya`, hal. 32)

Begitu pula Al-Mu’tamir bin Sulaiman mengisahkan tentang pesan sang ayah, “Ayahku pernah menulis surat padaku saat aku berada di Kufah, ‘Belilah buku dan catatlah ilmu, karena harta itu akan musnah, sementara ilmu itu akan kekal’.” (dinukil dari Waratsatul Anbiya`, hal. 32)

Bila ilmu dimiliki oleh seseorang, maka kehormatan dan kemuliaan akan datang tanpa diundang dan dicari-cari.Tak memandang apakah dia keturunan bangsawan atau seorang budak, ataukah dia seorang rupawan atau tidak. Memang, bila akhirat menjadi tujuan seseorang, maka dunia pun akan Allah Subhanahu wa Ta’ala datangkan kepadanya. Sebaliknya, bila dunia yang menjadi cita-citanya, maka kehinaan semata yang akan dia dapatkan. Demikian dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pernah mendengar beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَتِ اْلآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ، وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ

“Barangsiapa yang akhirat menjadi tujuannya, Allah akan jadikan kekayaan dalam hatinya, dan Allah kumpulkan baginya urusannya yang tercerai-berai, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan tidak suka kepadanya. Dan barangsiapa yang dunia menjadi cita-citanya, Allah akan jadikan kefakiran di depan matanya, Dia cerai-beraikan urusannya, dan dunia tidak akan mendatanginya kecuali hanya apa yang telah ditentukan baginya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2465, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi: Shahih)

Ibnul Jauzi rahimahullahu pernah menasihati putranya dan menganjurkannya untuk menyibukkan diri dengan ilmu. Beliau berkata, “Ketahuilah, ilmu itu akan mengangkat orang yang hina. Banyak kalangan ulama yang tidak memiliki nasab yang bisa dibanggakan dan tidak punya wajah yang rupawan.”

Bahkan ‘Atha` bin Abi Rabah rahimahullahu adalah seorang yang berkulit hitam dan berwajah jelek, namun didatangi oleh Khalifah Sulaiman bin ‘Abdil Malik bersama dua orang putranya. Mereka duduk di hadapan ‘Atha` untuk bertanya masalah manasik haji. ‘Atha` pun menjelaskan pada mereka bertiga sambil memalingkan wajahnya dari mereka. Sang Khalifah berkata kepada kedua putranya, “Bangkitlah, dan jangan lalai dan malas untuk mencari ilmu. Aku tidak akan pernah melupakan kehinaan kita di hadapan budak hitam ini.” (dinukil dari Waratsatul Anbiya`, hal. 33)

Kalau demikian kenyataannya, tentunya orangtua tak akan membiarkan angan-angannya melambung tanpa arah. Mengantarkan anak menjadi seorang yang mengerti tentang syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan segala seluk-beluknya berarti mengantarkan anak menjadi seorang yang akan dimuliakan di dunia dan di akhirat.

Oleh karena itu, hendaknya orangtua selalu berusaha membimbing anak-anaknya untuk mengikuti halaqah-halaqah ilmu, menekankannya, dan menyemangati mereka agar bersungguh-sungguh dalam menempuh jalan untuk menuntut ilmu, tanpa rasa bosan dan letih. Karena jalan ini akan menyampaikan mereka pada ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berujung jannah-Nya yang kekal abadi. Benarlah janji Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disampaikan oleh sahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya dengan ilmu tersebut, jalan menuju surga.” (HR. Muslim no. 2699)

Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Dicopy dari: http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=475

 

Puasa Sunah Arafah

Filed under: Dunia Muslim — azizah @ 4:24 am

Puasa Arafah Menghapus Dosa Dua Tahun

Mungkin ada yang bertanya, “Kenapa banyak yang intens sekali sih mencari informasi kapan jatuhnya puasa Arafah? Bukankah puasa Arafah sama saja dengan puasa-puasa lainnya? Cuma sekedar puasa sunnah?”

Bagi yang belum tahu, jawabannya adalah karena puasa di hari tersebut akan menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.

Dahulu nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa Arafah, maka beliau menjawab,


يٌكَفِّرُ السَّنة المَاضٍيَةَ و البَاقٍيَةَ

“Puasa Arafah menghapus dosa-dosa (kecil) setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR. Muslim)

 

Indonesia’s culture

Filed under: kebangsaan — azizah @ 4:20 am

prambanan templesalah satu bukti majunya peradaban bangsa. siapakah yang kan mampu mewujudkan peradaban itu lagi?. setelah sekian lama kita terjajah oleh bangsa asing walau tidak seperti dulu lagi. tapi justru penjajahan kini tidak hanya mengekang secara Physically tetapi sudah jauh menembus batas sampai pada attitude dan karakater pribadi. bahakan sudah pada tataran merusak budaya ketimuran yang di masa lalu cukup menunjukkan adanya peradaban yang tinggi sebuah karakter khas bangsa. tapi bagaimanakah nations building indonesia kini kan kita bangun??sebuah pertanyaan besar untuk wujudkan jati diri bangsa.