Perspektif Azizah

Just another WordPress.com weblog

Nasionalisme dalam perspektif islam December 19, 2007

Filed under: kebangsaan — azizah @ 8:10 am

jika Islam memandang nasionalisme, seperti apakah?

jika mencintai dan membela negeri sendiri adalah suatu wujud dari sebagian iman

lalu bagaimanakh dengan konsep khilafah islamiyah?

yang ingin menyatukan Islam dalam satu khilafah.

ada beberapa pendapat tentang ini dan saya menemukan artikel berikut

Dr. Bachtiar Effendi:

Islam dan Nasionalisme tidak Mesti Bertentangan

29/08/2005

Hubungan antara Islam dengan nasionalisme tidak mesti bersifat diametral. Menjadi seorang muslim yang baik, tidak berarti menjadi seorang yang anti-nasionalisme. Fakta itulah yang telah ditunjukkan para perintis perjuangan kemerdekaan Indonesia tempo dulu. Demikian sekelumit perbincangan Burhanuddin dari Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan Dr. Bachtiar Effendi, dosen Pascasarjana UI, Kamis (18/8) lalu.

Hubungan antara Islam dengan nasionalisme tidak mesti bersifat diametral. Menjadi seorang muslim yang baik, tidak berarti menjadi seorang yang anti-nasionalisme. Fakta itulah yang telah ditunjukkan para perintis perjuangan kemerdekaan Indonesia tempo dulu. Demikian sekelumit perbincangan Burhanuddin dari Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan Dr. Bachtiar Effendi, dosen Pascasarjana UI, Kamis (18/8) lalu.BURHANUDDIN: Mas Bachtiar, kini muncul suatu genre muslim transnasional yang tidak tidak lagi mau terbatasi kantor imigrasi dan paspor. Beberapa kelompok umat Islam merasa tidak perlu disatukan oleh nation, tapi oleh persamaan agama. Apa komentar Anda?Bachtiar EffendiBACHTIAR EFFENDI: Problemnya, pertanyaan Anda mengambil contoh-contoh dari orang yang sedang bermasalah. Sebetulnya kita bisa melihat persoalan itu dari perspektif lain, misalnya dari segi ajaran dan sejarah. Dari segi ajaran, Islam itu memang tidak mengenal batas-batas geografis. Jadi kalau dikatakan transnasional, transbangsa, transsuku, transdaerah, saya kira doktrinnya memang seperti itu. Dari segi wilayah kekuasaan, dulunya juga begitu.

Kalau sedang mengajar tema Islam dan globalisasi, saya memang mengemukakan bahwa banyak juga orang-orang Islam yang khawatir terhadap globalisasi, karena kemungkinan atau potensinya untuk mensubordinasi Islam. Jadi pergumulan antara Islam dan globalisasi itu mirip pergumulan antara Islam dan modernitas yang sampai sekarang belum selesai. Tidak semua orang Islam bahagia dengan pergumulan itu, karena mereka merasa berada di posisi yang pinggiran dan kalah.

Tapi kalau kita lihat soal globalisasi dari sudut lain, sebetulnya nilai-nilai universal atau âlamî itulah yang sering orang-orang Islam katakan akan diperjuangkan. Doktrin itu sebetulnya mengandung paralelisme dengan globalisasi. Dan gagasan itu sebetulnya bukan gagasan-gagasan yang hanya dikenal di kalangan ekslusif Islam saja. Kalau meninjau kembali gagasan-gagasan Nurcholis Madjid, kita akan menemukan doktrin-doktrin Islam yang global, universal, dan transnasional. Ketika dia mengatakan bahwa ketaatan dan loyalitas itu harus pada Islam saja, bukan kepada partai atau ideologi, itu sebetulnya juga berarti ketaatan bukan pada teritori dan bangsa.

BURHANUDDIN: Kalau dari sudut doktrin, bukan hanya Islam yang mengklaim transnasional. Semua Abrahamic religion masuk kategori transnasional, kan?

Ya. Seingat ilmu perbandingan agama saya, kecuali agama Yahudi. Tapi saya tahu, pertanyaan Anda bukan soal Islam transnasional dari sudut doktrin dan ajaran. Ketika diletakkan dalam konteks ajaran dan doktrin, sudah tidak ada masalah. Contohnya ibadah haji. Di waktu haji, tidak ada persoalan dalam pertemuan antara orang-orang Islam Wonosobo dengan orang Islam Citagong.

Tapi ketika pertanyaan lebih spesifik lagi, misalnya soal sikap orang Islam terhadap konflik Irak dan Kuwait, atau Irak dan Iran, maka akan jadi problematis. Bagaimana sikap orang Islam terhadap kebijakan Bung Karno yang ingin mengganyang Malaysia dulunya, menjadi sedikit problematis. Apakah dalam soal seperti itu orang Islam akan berpihak kepada doktrin atau kenyataan?

Secara doktrin, orang Islam memang tidak mengenal batas-batas kewilayahan, kebangsaan, negara, bendera, dan macam-macam simbol lainnya. Tapi kehidupan mereka sehari-hari juga diletakkan dalam batasan-batasan itu. Misalnya, ketika kita sedang konfrontasi dengan Malaysia dalam kasus Ambalat, bagaimana sikap orang Islam Indonesia? Apakah agama masih ada fungsinya dalam melihat persoalan itu? Apakah pemerintah tiap-tiap negara tidak menyisihkan faktor agama yang mengatakan kita bersaudara tanpa batas-batas wilayah dalam menentukan kebijakan?

BURHANUDDIN: Dalam kenyataan, ada saja sekelompok muslim yang konsisten meletakkan agama di atas bangsa dan setia mengampanyekan gagasan khilafah universal yang lintas negara. Bagi mereka, nasionalisme tidak penting bahkan tercela. Apa pendapat Anda?

Kalau batasan-batasan khilafah itu diletakkan dalam konteks doktrin agama saja, tentu tidak ada persoalan. Tapi kalau batasan-batasan khilafah itu diletakkan dalam kerangka nation-state yang lain, yang lebih besar, maka nation-nya akan menjadi nation Islam. State-nya adalah wilayah mana saja yang bisa dikuasai umat Islam. Jadi semacam macro nation-state. Saya kira, pandangan seperti itu bukan persoalan agama lagi, tapi sudah persoalan politik. Dan kalau soalnya politik, saya bisa berbeda, Anda bisa berbeda, dan siapa pun bisa berbeda pendirian.

Saya kira, soal seperti itu tidak ada hubungannya dengan tebal dan tipisnya iman seseorang, dan tidak ada kaitan dengan halal dan haram. Jadi kalau kawan-kawan di Hizbut Tahrir misalnya percaya bahwa tekanan geo-politik orang-orang Islam itu harus Pan-Islamic State, atau Pan-Caliphate State, silakan saja diperjuangkan, kalau bisa.

BURHANUDDIN: Secara historis, kekhilafahan Islam pernah eksis di dunia Islam. Tapi di zaman modern, orang lebih memilih nasionalisme. Tapi pertarungan antara ide lama dengan ide baru itu nampaknya tetap berlangsung.

Mungkin ada pandangan seperti itu. Tapi saya ingin memikirkan soal ini secara jernih. Misalnya, apakah gagasan tentang khilafah itu gagasan keagamaan atau gagasan politik? Saya bukan sejarawan, tapi kalau pemahaman sejarah saya masih bisa diterima, khilafah itu sebetulnya konsekuensi saja dari penaklukan demi penaklukan yang dilakukan penguasa-penguasa Islam. Kebetulan, ketua, penguasa, presiden, atau siapa pun yang memimpin di kala itu disebut khalifah. Mestinya, semua itu perlu dilihat sebagai gagasan yang bersifat non-agama. Bahwa di dalamnya ada unsur-unsur dan nilai-nilai agama, mungkin saja. Tapi saya kira itu persoalan politik.

Lantas tentang nation, sebetulnya sejak abad ke-18 dan ke-19 sudah mulai terjadi kompartementalisasi wilayah-wilayah di dunia. Dalam bentuk yang modern, juga terjadi balkanisasi, seperti terpecahnya negara-negara kecil di Semenanjung Balkan. Memang dasar-dasarnya bisa nation atau kesatuan bangsa, dan bisa juga agama. Tapi kenyataannya, kita hidup di alam modern yang berbasis nation-state. Gelora nasionalisme dan lain sebagainya itu, selalu saja diletakkan dalam konteks bagaimana memerdekakan diri dari penjajahan dan penguasaan pihak asing. Makanya banyak sejarawan menulis tentang fajar atau bangkitnya nasionalisme di awal abad ke-20, baik di Asia, Afrika, dan tempat-tempat lainnya. Sebab, memang pada awal abad ke-20 itulah kekuatan-kekuatan dan belenggu-belenggu kolonial mulai terlepas.

Kalau kita letakkan dalam konteks seperti itu, kita juga bisa berbicara mengenai nasionalisme sekarang ini dalam perspektif yang lain. Umpamanya, secara fisik kita memang tidak lagi terikat oleh praktik-praktik kolonialisme masa lampau. Tapi kalau bicara secara substansial, banyak mereka yang menganut nasionalisme seperti Bung Karno. Nasionalisme Bung Karno tahun 1950-an itu masih ada terkait dengan kehendak lepas dari belenggu penjajah. Perhatikan saja bagaimana sikap Bung Karno terhadap modal dan bantuan luar negeri, kekuatan-kekuatan raksasa luar, atau dunia Barat. Dia sudah punya kekhawatiran akan terjadinya cengkraman atas dunia ketiga.

Itulah yang dulunya menghantui Bung Karno, dan tidak lagi menghantui orang-orang sekarang yang sudah hidup berjarak sekian lama dengan masa kolonial. Soekarno yang nasionalis itu, pada tahun 1950 dan 1960-an juga sudah mengatakan, ”Kita memang sudah merdeka. Tapi jangan lupa, masih ada neo-imperalisme!” Gagasan seperti itu kan tidak pernah mati, dan sampai tingkat tertentu masih terdapat orang-orang yang sampai sekarang meng-entertaint gagasan-gagasan seperti itu.

BURHANUDDIN: Mas Bachtiar, kaum intelektual selalu membedakan stratifikasi sosial-politik umat Islam Indonesia dengan kategori Islamis dan nasionalis. Di kategori seperti itu, orang Islam masih tampak tersudut atau paling tidak tercurigai kadar nasionalismenya.

Memang ada saja yang berpemahaman bahwa nasionalisme harus kita berikan prasyarat-prasyarat tertentu. Ada pemahaman yang ideologis, dan ada saja pemahaman yang menjadikan nation-state sebagai sebuah ideologi. Tapi ada juga yang memahami nasionalisme sebagai rasa cinta negara, cinta tanah air. Bagi saya, siapa pun yang meragukan nasionalisme orang-orang Islam masa lalu, dia harus membaca kembali apa yang pernah dilakukan Cokroaminoto, dan jangan hanya membaca perdebatan-perdebatan Soekarno di satu pihak, Muhammad Natsir, Agus Salim dan yang lainnya di pihak lain.

Cobalah pahami lagi apa yang dilakukan Cokroaminoto melalui Syarikat Islam (SI) pada masa itu. Dalam pandangan sejarawan tertentu, cikal bakal gerakan nasionalisme yang paling awal dan yang sungguh-sungguh di Indonesia adalah gerakan SI yang dimotori Cokroaminoto, bukan sekolah Stovia dengan Budi Utomo dan lainnya itu. Gerakan Budi Utomo itu hanya terdiri dari beberapa orang atau 50-an orang saja. Tapi SI itu luar biasa. Dalam satu tahun saja, keanggotaannya bisa sekian banyak, dan semuanya aktif mengobarkan api nasionalisme.

Tentu saja itu tidak bisa dipahami dalam konteks ideologis. Saya nasionalis, tapi mungkin ideologi saya lain. Orang lain disebut nasionalis, tapi ideologinya berbeda dengan saya. Kategori-kategori yang diciptakan ilmuan-ilmuan sosial dan para sejarawan tentang kelompok-kelompok orang Indonesia, sebetulnya masih klasifikasi yang ideologis. Semua itu tidak ada hubungannya dengan soal cinta tanah air seseorang. Orang-orang yang dibilang kelompok Wahid Hasyim, Sukiman, dan Mohammad Roem, tidak kurang cintanya pada Indonesia. Hanya saja, mereka punya perspektif atau weltanschaung sendiri yang berbeda dari Soekarno tentang Indonesia.

BURHANUDDIN: Saya kira sebaliknya juga betul. Soekarno itu juga pembaca Islam yang baik. Cokroaminoto tentu seorang nasionalis yang tidak bisa kita ragukan. Apa pelajaran yang bisa kita tarik dari para founding fathers kita itu?

Kalau mau belajar, apa yang dilakukan Bung Karno, Hatta, Sjahrir, Wahid Hasyim, Sukiman, Bagus Hadikusumo dan lain-lain itu, sebetulnya tidak ada hubungannya dengan nasionalisme atau tinggi-rendahnya tingkat kecintaan mereka terhadap nation bernama Indonesia. Mereka hanya dibedakan oleh sudut pandang masing-masing. Yang satu ingin Islam sebagai dasar negara, yang lain menginginkan Pancasila; yang satu menginginkan agama sebagai dasar kebangsaan, yang lain ingin kesatuan bangsa.

Sebetulnya itu yang harus kita pahami benar supaya tidak muncul kategori-kategori yang tidak tepat. Saya kira, tidak ada hubungan antara nasionalisme dengan penerimaan atas Pancasila. Juga tidak ada hubungan yang diametral antara nasionalisme dan Islam. Jadi, seseorang bisa menjadi muslim yang taat sekaligus seorang nasionalis, atau menganut ideologi Pancasila dan sekaligus nasionalis.

Kita tahu, semua pejuang kemerdekaan kita dulunya paham betul bahwa mereka sedang berhadapan dengan Indonesia yang bhineka atau beragam. Jadi soal persatuan dan kebersamaan itu menjadi sesuatu yang penting. Dalam pandangan Pak Natsir, yang bisa menyatukan kita adalah Islam. Tapi dalam pandangan Soekarno, yang bisa menyatukan adalah Pancasila. Hanya itu saja titik perbedaan antar mereka.

Kesalahan yang dibuat kalangan ilmuwan sosial adalah menyamakan atau mengait-ngaitkan antara perbedaan ideologis antara Islam dan Pancasila dengan rasa cinta tanah air. Itu yang menurut saya salah. Pak Deliar Noer menganggap orang-orang seperti Natsir itu seorang nasionalis-islami atau religius, sementara Soekarno dianggap religiously neutral nationalist atau nasionalis yang netral agama. Pak Syaifuddin Ansari bahkan menyebut Soekarno nasionalis-sekuler. Kategori seperti itu menurut saya juga tidak tepat betul, dan kita harus hati-hati dengan kategori-kategori yang enak didengar tapi bisa missleading itu.

Siapa yang bisa meragukan keislaman Soekarno? Memang harus kita katakan, yang paling tahu keimanan dan keislaman Soekarno tentu saja Tuhan. Tapi dengan akal sehat kita bisa menelusuri bahwa dia seorang yang belajar Islam secara intens dengan Cokroaminoto. Jadi sebenarnya, bapak nasionalisme Indonesia sekaligus bapak politik orang Islam itu adalah Cokroaminoto. Nah, Soekarno itu belajar Islam dari Cokroaminoto dan Cokroaminoto sangat percaya pada Soekarno. Dia (Cokroaminoto) tidak sedikit pun meragukan keislaman Soekarno.

Dengan seluruh nilai-nilai ke-Jawa-an, saya harus katakan: tidak mungkin Cokroaminoto akan menyerahkan putrinya untuk dinikahi Soekarno kalau dia masih meragukan keislaman Soekarno. Pernikahan Soekarno dengan Utari itu memang tidak berlangsung lama, tapi itu jelas bukti konkret bahwa Cokroaminoto percaya pada Soekarno.

Ketika dibuang di Pulau Ende sana, Soekarno juga rutin berkomunikasi tentang Islam dengan Pak Natsir dan gurunya Hasan Bando, seorang pemimpin Persis. Dan kalau kita baca tulisan-tulisannya, kita tahu bahwa itu luar biasa; mencerminkan keprihatinan, kegelisahan, dan komitmennya terhadap nilai-nilai keislaman.

Gejala seperti itu kan terjadi di mana-mana, dan perbedaan itu biasa saja terjadi. Yang satu ingin melihat Islam seperti ini, yang satu ingin seperti itu. Semuanya didasarkan pada rasa cinta terhadap Islam. Yang satu ingin lebih diformalkan, yang lain ingin lebih diletakkan dalam konteks kekiniaan. Di dalam sebuah tulisannya tentang Masyarakat Kapal Udara, Bukan Masyarakat Onta, Soekarno pernah bertanya: bagaimana menyikapi tata cara fikih yang menganjurkan pembasuhan enam kali dengan air dan sekali dengan tanah ketika kita dijilat anjing?

Mungkin Soekarno berpikir, kalau cuma dibasuh sekali dua kali dengan air, mungkin kotornya tidak bisa bersih. Asumsinya, dengan tanah bisa bersih. Tapi sekarang kan sudah ada Kreolin. Dalam benak Soekarno, itu cukup sekali basuh, tapi dengan alat pembersih. Nah, pandangan sepeti itu tidak ada hubungannya dengan liberal dan tidak liberalnya seseorang, tapi hanya soal logika-logika saja.

BURHANUDDIN: Mas Bachtiar, pada masa Orba, nasionalisme tampaknya ditafsirkan top-down, sehingga masyarakat tidak menganggapnya sebagai ide kreatif dari bawah. Lalu, nasionalisme dianggap paket rezim status quo yang bertindak totaliter. Apa kontribusi yang layak diajukan umat Islam untuk menafsirkan ulang nasionalisme?

Saya kira, mengharapkan Islam tidak punya pengaruh dan peran apa-apa sembari berdiri di pojok sana dalam seluruh proses nation building, dan day to day politic mungkin tidak pernah akan kesampaian. Saya tidak katakan naïf, tapi sulit berharap pada pikiran seperti itu. Saya kira orang-orang Islam juga tahu bahwa mereka hidup di Indonesia. Walaupun secara doktrinal Islam itu bersifat universal, tapi penafsiran atas gagasan-gagasan keislaman, sebagian besar juga tidak bisa lepas dari kondisi di mana sang penafsir berada. Karena kebetulan mereka berada di Indonesia, karakter dan hal-hal yang mewarnai ke-Indonesia-an juga tidak bisa dilepaskan dalam menafsirkan Islam. Artinya Islam tidak berkembang di alam yang vakum.

Karena itu, Islam dan nasionalisme tidak perlu atau harus dipertentangkan. Adanya pertentangan-pertentangan itu sebetulnya muncul dari prasangka dan ketakutan-ketakutan saja. Misalnya saja prasangka atas globalisasi. Hal-hal yang terjadi di sini dengan segera bisa diketahui di luar sana, dan bahkan diasumsikan adanya kekuatan-kekuatan besar yang bisa mendikte kita.

Saya baru membaca buku Confessions of an Economic Hit Man, sebuah pengalaman pribadi John Perkins. Di situ dia mengungkap bahwa kita tidak bisa menolak bahwa di dunia ini selalu saja ada kekuatan-kekuatan pengintai yang membuat dunia ketiga selalu bergantung secara ekonomi. Karena itu, wajar kalau ada saja orang yang mengatakan kalau kita ini kurang nasionalis dalam perdebatan seputar kebijakan ekonomi. Tapi di lain pihak, ada juga yang mengatakan bahwa nasionalisme kita terlalu sempit. Nah, bagi saya, Islam harus diletakkan di dalam konteks kekinian dan di mana kita berada untuk mencari posisi yang tepat.

BURHANUDDIN: Tapi nampaknya belakangan ada tantangan serius atas nasionalisme dengan penempatan agama atau suku pada posisi di atas kebangsaan. Akibatnya, muncul persepsi tentang second member of society atau anggota masyarakat kelas dua. Tanggapan Anda?

Ini memang sesuatu yang sulit dihindari, apalagi pada masa di mana orang merasa boleh bicara dan berpendapat apa saja. Ini saya kira juga harga atau konskuensi yang harus bayar bersama ketika memutuskan bahwa sistem yang berlaku pada masa Pak Harto dulunya sudah tidak bisa lagi dipertahankan. Sekarang orang tidak bisa lagi mengatakan “kamu jangan bicara seperti itu” pada pihak mana saja. Tapi kita tidak bisa hidup bernegara kalau kebebasan itu tidak didasarkan pada sebuah aturan-aturan yang disepakati bersama.

Masa transisi ini tidak menghadirkan sesuatu yang bersifat selesai. Mungkin juga ada pihak-pihak yang tidak suka pada amandemen UUD 1945 dan ingin mengembalikan posisi UUD 1945 pada bentuk awalnya. Sesuatu yang harus kita perhatikan secara sungguh-sungguh adalah: di alam kebebasan, kondisi seperti itu tidak bisa kita pertahankan kalau tidak ada nilai-nilai dasar yang kita sepakati bersama.

http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=870

About these ads
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.